Selasa, 05 Maret 2013

Makna Kebahagiaan Sejati

‎- MAKNA KEBAHAGIAAN SEJATI -

Banyak orang berkata,
"Aku bahagia bila aku memiliki uang 10 Milyar.
Aku bahagia bila aku mempunyai rumah gedung besar berlantai lima.
Aku bahagia bila aku memiliki mobil mewah. Dan masih banyak lagi contoh bahagia bila memiliki sesuatu yang mahal harganya".

Benarkah ukuran bahagia diukur dari jumlah materi yg dimiliki.??

Banyak kita jumpai orang kaya raya tapi tidak bahagia atau
bahkan bunuh diri.

Sebaliknya banyak kita melihat orang yang sederhana hidupnya tapi bahagia dan penuh suka cita.

Apa sebabnya.??
Apa rahasianya bahagia.??

Kebahagiaan adalah :
"Remember, happiness doesn't depend upon who you are or what you have, it depends solely on what you think."
~ Dale Carnegie.

"Ingat, kebahagiaan tidak tergantung pada siapa Anda atau apa yang Anda miliki, itu semata-mata tergantung pada apa yang Anda pikirkan."

Story :

Banyak orang mengeluh atas hidupnya setelah melihat orang lain lebih sukses atas dirinya.

Seorang pengendara motor mengeluh mengendarai motornya kalau melihat mobil mewah melintas di depannya.

Sebuah keluarga iri kalau melihat tetangganya liburan ke luar negeri.

Seorang manajer iri melihat rekan sejawatnya yang sudah berhasil.

Keluhan terlontar karena kita terus-menerus berupaya membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika seseorang tidak dapat mensyukuri apa yang ada dalam hidupnya dan terus-menerus melihat kebahagiaan orang lain, ia tidak akan dapat menciptakan kebahagiaannya.

Kebahagiaan tidak terletak pada kondisi kita, tapi pada apa yang kita ciptakan dalam pikiran kita. Jika keluhan, protes, dan tidak bersyukur yang selalu muncul dipikiran kita, apapun kondisi kita
pasti tidak akan bahagia.

Mengapa orang yang hidup sederhana bisa bahagia.??
Dan mengapa orang yang hidup berlimpah masih tidak bahagia.??

Karena mereka menciptakan pola salah di pikirannya.
Ingat, kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, jika kita belum membenahi pola pikir. Hati yang ikhlas dan penuh syukur yang dapat membawa pada kebahagiaan sejati.

APA MAKNA BAHAGIA MENURUT ANDA.??

Kamis, 24 Januari 2013

KISAH INSPIRATIF


KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos Zhang Da Menginspirasi Banyak Orang

Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.

Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.

Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.

Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.

Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. "Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya.

Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara.

Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. "Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai.

Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?